bischoffweiss.com – Tantangan kesembilan dalam pembayaran internasional tradisional adalah masalah fragmentasi regulasi dan kepatuhan. Ketika dana berpindah melalui banyak yurisdiksi dan bank koresponden, setiap bank harus mematuhi serangkaian aturan Know Your Customer (KYC) dan Anti-Money Laundering (AML) yang berbeda-beda, menciptakan biaya dan penundaan yang besar.
Biaya Kepatuhan yang Berlipat Ganda
- Fragmentasi Global: Tidak ada standar kepatuhan KYC/AML tunggal di seluruh dunia. Apa yang dianggap cukup di satu negara (misalnya, identifikasi dasar) mungkin tidak memadai di negara lain. Bank koresponden harus mengulang atau memvalidasi ulang informasi pelanggan di setiap langkah, menyebabkan duplikasi upaya dan biaya.
- Verifikasi yang Tidak Efisien: Dalam sistem pesan SWIFT, data KYC/AML sering kali dikirim dalam format yang tidak terstruktur atau tidak lengkap. Bank penerima sering menerima informasi yang tidak cukup untuk memenuhi persyaratan due diligence lokal mereka, yang memaksa mereka menghentikan transaksi dan meminta informasi tambahan secara manual. Hal ini dikenal sebagai panggilan balik (call-backs) atau perbaikan manual, yang memperpanjang waktu penyelesaian hingga berhari-hari.
- Risiko De-Risking: Karena biaya kepatuhan yang mahal dan risiko denda yang besar jika terjadi pelanggaran AML/CFT, bank-bank besar di negara maju semakin mengurangi atau menghentikan hubungan perbankan koresponden (de-risking) dengan bank-bank kecil di negara berkembang. Hal ini membatasi aliran dana formal dan justru mendorong transaksi ke jalur keuangan informal yang kurang terawasi.
Solusi Modern: Standarisasi Data dan Digital ID
Industri berupaya mengatasi fragmentasi ini melalui inisiatif seperti:
- ISO 20022: Adopsi standar pesan finansial yang lebih kaya data ini diharapkan dapat menyertakan informasi kepatuhan yang lebih terstruktur (seperti Legal Entity Identifier/LEI) dalam pesan itu sendiri. Hal ini dapat mengurangi kebutuhan perbaikan manual.
- Identitas Digital Lintas Batas: Solusi DLT dan teknologi blockchain berpotensi menciptakan identitas digital yang diverifikasi secara kriptografi. Ini memungkinkan data KYC pelanggan untuk disimpan dengan aman dan dibagikan secara on-demand kepada bank perantara, tanpa perlu mengulang proses verifikasi, sehingga kepatuhan menjadi built-in ke dalam arsitektur pembayaran.
Dengan mengurangi beban kepatuhan manual dan meningkatkan transparansi data yang dikirim, sistem pembayaran generasi berikutnya dapat menghemat biaya yang signifikan dan mempercepat proses, sekaligus meningkatkan keamanan dari kejahatan finansial transnasional.
Leave a Reply