Transfer uang ke luar negeri tuh kayak beli tiket pesawat. Lo bayar mahal, tapi nggak tahu detail biayanya beneran dipake buat apa. Nah, biaya tersembunyi itu biasanya numpuk di bank koresponden, perantara yang jarang banget dibicarakan.
Main Mata Diam-Diam Bank Koresponden
Gini ceritanya. Ketika lo transfer USD 1000 ke Amerika, bank lo di Indonesia nggak langsung terhubung ke bank penerima. Mereka pakai jasa bank ketiga di Singapura atau Hong Kong sebagai perantara. Setiap bank koresponden ini ambil potongan, bisa $10-$30 per transaksi. Yang parah? Lo nggak pernah dikasih laporan rincian ini.
Dulu waktu kerja di financial advisory, gue nemuin kasus transfer €5000 dari Jerman ke Indonesia yang dipotong €147. Setelah diusut, €90 di antaranya hilang di dua bank koresponden. Padahal nasabah dikasih tahu biaya transfer cuma €20.
Bank-bank besar punya jaringan koresponden yang udah dibangun puluhan tahun. Mereka bisa punya 10-20 mitra di tiap region. Sepintas kelihatan efisien, tapi sebenernya ini kartel terselubung. Semakin rumit rutenya, semakin gede potongannya.
Ada trik kotor: mark-up nilai tukar. Bank bilang pakai kurs 15.000 per USD, padahal di pasar aktuallnya 15.200. Selisih 200 rupiah per dolar itu masuk kantong mereka. Buat transfer $10.000, artinya lo kehilangan Rp 2 juta tanpa sadar.
Gue pernah tes transfer sama-sama $1000 via bank konvensional dan fintech. Hasilnya? Bank potong $45, fintech cuma $8. Bedanya? Fintech biasanya punya jaringan langsung tanpa perlu banyak perantara.
Lalu kenapa bank nggak transparan? Gampang, karena ini sumber pendapatan tetap mereka. Industri transfer uang global bernilai $600 miliar per tahun. Bayangin berapa persen yang masuk ke bank koresponden.
Pertanyaannya: seberapa lama lagi masyarakat mau ditipu diam-diam? Dengan munculnya blockchain dan fintech, hari-hari bank koresponden mungkin udah diitung.
Leave a Reply