Kenapa Fintech Bisa Ngirit Biaya Transfer Hingga 90% Dibanding Bank?

Lo pasti sering denger fintech bisa bikin transfer internasional jauh lebih murah daripada bank. Tapi pernah mikir nggak gimana caranya mereka bisa potong biaya sampe segitu gila-gilaan? Ini nggak cuma soal teknologi doang, tapi ada permainan sistem di balik layar yang bank-bank konvensional nggak mau lo tahu.

Gak Pake Perantara, Langsung ke Tujuan

Yang bikin bank mahal itu sistem koresponden mereka. Transfer $1000 ke US bisa makan biaya $40-$60 karena harus lewat 2-3 bank perantara dulu. Setiap transit kena charge, ditambah spread kurs yang mereka mark-up gila-gilaan. Fintech? Mereka punya jaringan langsung di negara tujuan. Jadi uang lo nggak muter-muter dulu, langsung masuk ke rekening penerima.

Nih contoh konkret: waktu lo transfer Rp15 juta ke Jerman via bank, bisa kena Rp750 ribu. Fintech cuma charge Rp75 ribu-Rp150 ribu. Kok bisa? Mereka udah punya rekening holding di Jerman, jadi transfernya cuma virtual. Uang fisiknya nggak benar-benar dikirim.

Bank-bank konvensional itu terlalu nyaman dengan sistem lama. Bayangin aja, mereka bisa dapet untung 300-400% cuma dari spread valas doang. Gila kan? Mereka bakal mati-matian pertahankan sistem busuk ini selama masih ada nasabah yang mau bayar mahal.

Lo pikir regulasi bakal bantu? Jangan harap. Di banyak negara, fintech dan bank itu diatur oleh institusi yang sama. Ada conflict of interest gila-gilaan di sini. Mereka tutup mata karena sistem koresponden ini udah jadi sumber pendapatan utama selama puluhan tahun.

Tapi nggak semua fintech murah sih. Lo harus pinter-pinter milih. Ada yang nawarin harga murah tapi ternyata spread-nya gila-gilaan. Caranya gampang: selalu cek total amount yang diterima penerima, bukan cuma biaya transfer yang disebutin. Itu baru angka sesungguhnya.

Teknologi blockchain sebenernya bisa bikin biaya transfer hampir nol. Tapi kenapa fintech nggak pake? Simple: mereka masih perlu revenue stream. Tapi dibanding bank yang rakus, setidaknya mereka masih masuk akal. Nggak heran di 2024 ini volume transfer via fintech udah tembus 3x lipat dibanding 2020.

Jadi kalau lo masih sering pake bank buat transfer internasional, mungkin lo perlu mikir ulang. Atau jangan-jangan lo emang suka dibodohi?

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *